cirri struktur estetik
puisi :
1.gaya epik (bercerita) berkembang dengan berkembngnya puisi cerita dan balada, dengan gaya yang lebih sederhana dari puisi lirik.
2.gaya mantra mulai tampak balada-balada
3.gaya ulangan mulai pada berkembang (meskipun sudah dimulai oleh angkatan 45)
4.gaya puisi liris pada umumnya masih meneruskan karya gaya angkatan 45.
5.gaya slogan dan retorik makin berkembang.
Minggu, 06 November 2011
Contoh puisi angkatan 45-an
Aku (Chairil Anwar)
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Contoh puisi angkatan 30-an
PERASAAN SENI
bagaikan banjir gulung – gemulung,
bagaikan topan seruh – menderu,
demikian rasa,
datang semasa,
mengalir, menimbun, mendesak, mengepung,
memenuhi sukma, menawan tubuh.
serasa manis sejuknya embun,
selagu merdu dersiknya angin,
demikian rasa,
datang semasa,
membisik, mengajak, aku berpantun,
mendayung jiwa ke tempat di ingin.
jika kau datang sekuat raksasa,
atau kau menjelma secantik juita,
kusedia hati,
akan berbakti,
dalam tubuh kau berkuasa,
dalam dada kau bertahta!
bagaikan banjir gulung – gemulung,
bagaikan topan seruh – menderu,
demikian rasa,
datang semasa,
mengalir, menimbun, mendesak, mengepung,
memenuhi sukma, menawan tubuh.
serasa manis sejuknya embun,
selagu merdu dersiknya angin,
demikian rasa,
datang semasa,
membisik, mengajak, aku berpantun,
mendayung jiwa ke tempat di ingin.
jika kau datang sekuat raksasa,
atau kau menjelma secantik juita,
kusedia hati,
akan berbakti,
dalam tubuh kau berkuasa,
dalam dada kau bertahta!
Contoh puisi ankatan 30-an
Anakku
engkau datang menhintai hidup
engkau datang menunjukkan muka
tapi sekejap matamu kaututup,
melihat terang anaknda tak suka.
mulut kecil tiada kau buka,
tangis teriakmu takkan diperdengarkan
alamat hidup wartakan suka,
kau diam, anaakku, kami kautinggalakn.
sedikit pun matamu tak mengerling,
memandang ibumu sakit terguling
air matamu tak bercucuran,
tinggalkan ibumu tak berpenghiburan.
kau diam, diam, kekasihku,
tak kaukatakan barang pesanan,
akan penghibur duka didadaku,
kekasihku, anakku, mengapa kain?
sebagai anak melalui sedikit,
akan rumah kami berdua,
tak anak tak insyaf sakit,
yang diderita orang tua.
tangan kecil lemah tergantung,
tak diangkat memeluk ibumu,
menyapu dadanya, menyapu jantung,
hiburkan hatinya, sayangkan ibumu.
selekas anaknda datang,
selekas anaknda pulang.
tinggalkan ibu sakit terlintang,
tinggalkan bapak sakit mengenang.
selamat jalan anaknda kami,
selamat jalan kekasih hati.
anak kami Tuhan berikan,
anak kami Tuhan panggilkan,
hati kami Tuhan hiburkan,
nama Tuhan kami pujikan.
engkau datang menhintai hidup
engkau datang menunjukkan muka
tapi sekejap matamu kaututup,
melihat terang anaknda tak suka.
mulut kecil tiada kau buka,
tangis teriakmu takkan diperdengarkan
alamat hidup wartakan suka,
kau diam, anaakku, kami kautinggalakn.
sedikit pun matamu tak mengerling,
memandang ibumu sakit terguling
air matamu tak bercucuran,
tinggalkan ibumu tak berpenghiburan.
kau diam, diam, kekasihku,
tak kaukatakan barang pesanan,
akan penghibur duka didadaku,
kekasihku, anakku, mengapa kain?
sebagai anak melalui sedikit,
akan rumah kami berdua,
tak anak tak insyaf sakit,
yang diderita orang tua.
tangan kecil lemah tergantung,
tak diangkat memeluk ibumu,
menyapu dadanya, menyapu jantung,
hiburkan hatinya, sayangkan ibumu.
selekas anaknda datang,
selekas anaknda pulang.
tinggalkan ibu sakit terlintang,
tinggalkan bapak sakit mengenang.
selamat jalan anaknda kami,
selamat jalan kekasih hati.
anak kami Tuhan berikan,
anak kami Tuhan panggilkan,
hati kami Tuhan hiburkan,
nama Tuhan kami pujikan.
Ciri-ciri puisi angkatan 30-an
Cirinya adalah
1) Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern,
2) Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya,
3) Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris,
4) Pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda,
5) Aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan
6) Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.
1) Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern,
2) Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya,
3) Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris,
4) Pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda,
5) Aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan
6) Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.
Puisi Angkatan 20-an
II
Bilakah bumi bertabur bunga,
disebarkan tangan yang tiada terikat,
dipetik jari, yang lemah lembut,
ditanai sayap kemerdekaan rakyat?
Bilakah lawang bersinar Bebas,
ditinggalkan dera yang tiada berkata?
Bilakah susah yang beta benam,
dihembus angin kemerdekaan kita?
Disanalah baru bermohon beta,
supaya badanku berkubur bunga,
bunga bingkisan, suara syairku.
Disitulah baru bersuka beta,
pabila badanku bercerai nyawa,
sebab menjemput Manikam bangsaku.
Dari: Percikan Permenungan
Oleh: Rustam Effendi (Angkatan Balai Pustaka)
Bilakah bumi bertabur bunga,
disebarkan tangan yang tiada terikat,
dipetik jari, yang lemah lembut,
ditanai sayap kemerdekaan rakyat?
Bilakah lawang bersinar Bebas,
ditinggalkan dera yang tiada berkata?
Bilakah susah yang beta benam,
dihembus angin kemerdekaan kita?
Disanalah baru bermohon beta,
supaya badanku berkubur bunga,
bunga bingkisan, suara syairku.
Disitulah baru bersuka beta,
pabila badanku bercerai nyawa,
sebab menjemput Manikam bangsaku.
Dari: Percikan Permenungan
Oleh: Rustam Effendi (Angkatan Balai Pustaka)
puisi angkatan 20 an
MENGELUH
Bukanlah beta berpijak bunga,
melalui hidup menuju makam.
Setiap saat disimbur sukar
bermandi darah dicucurkan dendam
Menangis mata melihat makhluk,
berharta bukan berhakpun bukan.
Inilah nasib negeri anda,
memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
ratapun rakyat riuhan gaduh,
membobos masuk menyapu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
suara sebat sedanan rusuh,
menghimpit masah, gubahan cintaku.
Bukanlah beta berpijak bunga,
melalui hidup menuju makam.
Setiap saat disimbur sukar
bermandi darah dicucurkan dendam
Menangis mata melihat makhluk,
berharta bukan berhakpun bukan.
Inilah nasib negeri anda,
memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
ratapun rakyat riuhan gaduh,
membobos masuk menyapu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
suara sebat sedanan rusuh,
menghimpit masah, gubahan cintaku.
